Powered By Blogger

Tuesday, 2 April 2013

FOKUS : BAGAIMANA DENGAN LALAT?


FOKUS : BAGAIMANA DENGAN LALAT?

Untuk menguatkan pernyataan bahwa 
dinosaurus berubah menjadi burung, 
evolusionis mengatakan bahwa 
sejumlah dinosaurus yang 
mengepakkan kaki depan untuk 
berburu lalat telah "menda-patkan 
sayap dan terbang" (seperti yang 
terlihat dalam gambar). Karena teori ini 
tidak memiliki landasan ilmiah dan 
tidak lebih dari sekadar khayalan, 
timbullah sebuah kontradiksi logis 
yang nyata: contoh yang disebutkan 
evolusionis saat menjelaskan asal 
mula kemampuan terbang, yaitu lalat, 
telah memiliki kemampuan terbang 
yang sempurna. Sementara manusia

tidak mampu mengedipkan mata 10 kali 
per detik, seekor lalat biasa 
mengepakkan sayapnya 500 kali per 
detik. Di samping itu, lalat menggerakkan 
kedua sayapnya secara 
serempak. Sedikit saja ada 
ketidaksesuaian pada getaran sayap, 
lalat akan kehilangan keseimbangan; tetapi ini tidak pernah terjadi.


Evolusionis seharusnya lebih dulu menjelaskan bagaimana lalat mendapatkan kemampuan terbang yang sempurna. 
Tetapi mereka justru mengarang skenario tentang bagaimana makhluk yang jauh lebih canggung seperti reptil bisa 
terbang.




Bahkan penciptaan sempurna pada lalat rumah menggugurkan pernyataan evolusi. Seorang ahli biologi Inggris, Robin 
Wootton, menulis dalam artikel berjudul "The Mechanical Design of Fly Wings (Desain Mekanis pada Sayap Lalat)":


"Semakin baik kita memahami fungsi sayap serangga, semakin tampak betapa rumit dan indahnya desain sayap 
mereka. Strukturnya sejak semula didesain agar seminimal mungkin mengalami perubahan bentuk; mekanismenya 
didesain untuk menggerakkan bagian-bagian komponen sayap secara terkirakan. Sayap serangga menggabungkan kedua 
hal ini; dengan menggunakan komponen-komponen berelastisitas berbeda, yang terakit sempurna agar terjadi 
perubahan bentuk yang tepat untuk gaya-gaya yang sesuai, sehingga udara dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin. 
Masih sedikit, kalaupun ada, teknologi yang sebanding dengan mereka."




Sebaliknya, tidak ada satu fosil pun yang dapat membuktikan evolusi imajiner lalat. Inilah yang dimaksud seorang ahli 
zoologi terkemuka Prancis, Pierre Grassé ketika mengatakan "Kita tidak memiliki petunjuk apa pun tentang asal usul serangga.

MATA RANTAI IMAJINER ANTARA BURUNG DAN DINOSAURUS


MATA RANTAI IMAJINER ANTARA BURUNG DAN DINOSAURUS

Pernyataan yang ingin dikemukakan para evolusionis dengan menampilkan Archcopteryx sebagai bentuk 
transisi, adalah bahwa burung merupakan hasil evolusi dari dinosaurus. Namun, salah seorang ahli 
ornitologi terkemuka di dunia, Alan Feduccia dari Universitas North Carolina, menentang teori bahwa burung 
memiliki kekerabatan dengan dinosaurus, sekalipun ia sendiri seorang evolusionis. Berkenaan dengan hal 
ini Feduccia mengatakan:





Saya telah mempelajari tengkorak-tengkorak burung selama 25 tahun dan saya tidak melihat 
kemiripan apa pun. Saya benar-benar tidak melihatnya.... Pernyataan bahwa Teropoda merupakan



nenek moyang burung, menurut pendapat saya, akan sangat mempermalukan paleontologi abad ke-20.

Larry Martin, spesialis burung purba dari Universitas Kansas, membantah teori bahwa burung berasal dari 
garis keturunan yang sama dengan dinosaurus. Ketika membahas kontradiksi yang dihadapi evolusi, Martin 
menyatakan:



Terus terang, jika saya harus mendukung bahwa burung dengan karakteristik tersebut berasal dari 
dinosaurus, saya akan merasa malu setiap kali harus berdiri dan berbicara tentangnya. 




Ringkasnya, skenario "evolusi burung" yang didasarkan hanya pada Archcopteryx, tidak lebih dari praduga 
dan angan-angan evolusionis.



Monday, 1 April 2013

ARCHCOPTERYX DAN FOSIL-FOSIL BURUNG PURBA LAINNYA


ARCHCOPTERYX DAN FOSIL-FOSIL BURUNG PURBA LAINNYA

Selama beberapa dekade evolusionis menyatakan Archcopteryx sebagai bukti terbesar skenario evolusi
burung, namun beberapa fosil yang baru ditemukan menggugurkan skenario tersebut.





Lianhai Hou dan Zhonghe Zhou, dua ahli paleontologi dari Institut Paleontologi Vertebrata Cina, pada tahun 1995 menemukan fosil burung baru yang mereka namai Confuciusornis. Usia fosil burung ini hampir sama dengan Archcopteryx (sekitar 140 juta tahun), tetapi tidak bergigi. Selain itu, paruh dan bulunya memiliki ciri yang sama dengan burung masa kini. Selain memiliki struktur rangka yang sama dengan burung modern, sayap burung ini juga memiliki cakar seperti Archcopteryx. Pada spesies burung ini dijumpai struktur khusus yang disebut "pygostyle" yang menopang bulubulu ekor. Singkatnya, burung ini tampak sangat menyerupai
burung modern, walau hidup semasa dengan Archcopteryx yang dianggap sebagai nenek moyang tertua dari semua burung dan disebut semi-reptil. Kenyataan ini menggugurkan semua anggapan evolusionis yang menyatakan bahwa Archcopteryx adalah nenek moyang primitif dari semua burung.

Satu fosil lagi yang ditemukan di Cina pada bulan November 1996, telah menimbulkan kebingungan yang lebih besar. Keberadaan burung berusia 130 juta tahun bernama Liaoningornis ini diumumkan dalam majalah Science oleh Hou, Martin dan Alan Feduccia. Liaoningornis memiliki tulang dada tempat menempel otot-otot untuk terbang, seperti burung modern. Dalam hal lain, burung ini juga tidak berbeda dengan burung modern. Yang berbeda hanya giginya. Keadaan ini menunjukkan bahwa burung bergigi tidak memiliki struktur
primitif sama sekali seperti anggapan evolusionis. Hal ini dinyatakan dalam sebuah artikel Discover "Dari mana burung berasal? Bukan dari dinosaurus, menurut fosil ini ".

Fosil lain yang membantah pernyataan evolusionis tentang Archcopteryx adalah Eoalulavis. Struktur sayap Eoalulavis, yang diperkirakan berusia 30 juta tahun lebih muda dari Archcopteryx, juga ditemukan pada burung modern yang terbang dengan lambat. Ini membuktikan bahwa 120 juta tahun lalu, terdapat burung-burung yang dalam banyak aspek tidak berbeda dengan burung modern.


Kenyataan ini sekali lagi memastikan bahwa Archcopteryx atau burung-burung purba lain yang mirip dengannya bukan bentuk-bentuk transisi. Fosil-fosil tersebut tidak menunjukkan bahwa pesies-spesies burung berevolusi dari satu ke yang lain. Bahkan sebaliknya, catatan fosil membuktikan bahwa burung modern dan sejumlah burung-burung purba seperti Archcopteryx ternyata pernah hidup bersama pada satu zaman. Akan tetapi, beberapa spesies burung ini seperti Archcopteryx dan Confuciusornis telah punah dan hanya sebagian dari spesies-spesies yang pernah ada mampu bertahan hingga sekarang.

Ringkasnya, beberapa ciri khas Archcopteryx tidak menunjukkan bahwa makhluk ini adalah bentuk transisi! Stephan Jay Gould dan Niles Eldredge, dua ahli paleontologi Harvard dan evolusionis terkenal, mengakui bahwa Archcopteryx adalah makhluk hidup yang memiliki "paduan" dari beragam ciri, akan tetapi tidak dapat dianggap sebagai bentuk transisi!



FOKUS: DESAIN BULU BURUNG


FOKUS: DESAIN BULU BURUNG

Teori evolusi, yang menyatakan bahwa burung berevolusi 
dari reptil, tidak mampu menjelaskan perbedaan besar 
antara dua golongan makhluk hidup tersebut. Dilihat dari 
ciri-ciri fisik seperti struktur kerangka, sistem paru-paru 
dan metabolisme berdarah panas, burung sangat berbeda

dengan reptil. Satu ciri lain yang merupakan dinding 
pemisah antara burung dan reptil adalah bulu burung 
yang benar-benar khas.


Tubuh reptil dipenuhi sisik, sedangkan tubuh burung tertutup bulu. Karena 
evolusionis menganggap reptil sebagai nenek moyang burung, mereka harus 
mengatakan bahwa bulu burung adalah hasil evolusi dari sisik reptil. Akan 
tetapi, tidak ada kemiripan antara sisik dan bulu.




Seorang profesor fisiologi dan neuro-biologi dari Universitas Connecticut, A.H. 
Brush, mengakui kenyataan ini meskipun ia seorang evolusionis: "Setiap 
karakteristik dari struktur dan organisasi gen hingga perkembangan, 
morfogenesis dan organisasi jaringan sangat berbeda (pada bulu dan sisik)." 
Di samping itu, Prof. Brush meneliti struktur protein bulu burung dan menyatakan bahwa protein tersebut "sangat 
khas dan tidak dijumpai pada vertebrata lain."




Tidak ada catatan fosil yang membuktikan bahwa bulu burung berevolusi dari sisik reptil. Sebaliknya seperti diungkapkan 
Prof. Brush, "Bulu-bulu muncul tiba-tiba dalam catatan fosil, secara tak terbantahkan sebagai ciri unik 
yang membedakan burung." Di samping itu, pada reptil tidak ditemukan struktur epidermis yang dirujuk sebagai 
asal mula bulu burung.




Pada tahun 1996, ahli-ahli paleontologi membuat kegemparan tentang fosil suatu spesies yang disebut dinosaurus 
berbulu, yang dinamakan Sinosauropteryx. Akan tetapi, pada tahun 1997, terungkap bahwa fosil-fosil ini tidak 
berhubungan dengan burung dan bulu mereka bukan bulu modern.




Sebaliknya, jika kita mengamati bulu burung secara saksama, kita mendapati suatu desain sangat kompleks yang 
sama sekali tidak dapat dijelaskan dengan proses evolusi. Seorang ahli burung terkenal, Alan Feduccia, 
mengatakan bahwa "setiap lembar bulu me-miliki fungsi-fungsi aerodinamis. Bulu-bulu tersebut sangat ringan, 
dengan daya angkat yang membesar pada kecepatan semakin rendah, dan dapat kembali pada posisi semula 
dengan sangat mudah". Selanjutnya ia mengatakan, "Saya benar-benar tidak mengerti bagaimana sebuah organ 
yang didesain sempurna untuk terbang dianggap muncul untuk tujuan lain pada awalnya".


Desain bulu juga memaksa Charles Darwin merenungkannya. Bahkan, keindahan sempurna dari bulu merak jantan 
telah membuatnya "muak" (perkataannya sendiri). Dalam sebuah suratnya untuk Asa Gray pada tanggal 3 April 
1860, ia mengatakan, "Saya ingat betul ketika pemikiran tentang mata membuat sekujur tubuh saya demam, tetapi 
saya telah melewati itu...." Kemudian diteruskan: "... dan sekarang suatu bagian-bagian kecil di sebuah struktur 
sering membuat saya sangat tidak nyaman. Sehelai bulu pada ekor merak, membuat saya muak setiap kali 
menatapnya, ".




Teori evolusi, yang menyatakan bahwa burung berevolusi dari reptil, tidak mampu menjelaskan perbedaan besar 
antara dua golongan makhluk hi-dup tersebut. Dilihat dari ciri-ciri fisik seperti struktur kerangka, sistem paru-paru 
dan metabolisme berdarah panas, burung sangat berbeda dengan reptil. Satu ciri lain yang merupakan dinding 
pemisah antara burung dan reptil adalah bulu burung yang benar-benar khas.


Tubuh reptil dipenuhi sisik, sedangkan tubuh burung tertutup bulu. Karena evolusionis menganggap reptil sebagai 
nenek moyang burung, mereka harus mengatakan bahwa bulu burung adalah hasil evolusi dari sisik reptil. Akan 
tetapi, tidak ada kemiripan antara sisik dan bulu.


Seorang profesor fisiologi dan neuro-biologi dari Universitas Connecticut, A.H. Brush, mengakui kenyataan ini 
meskipun ia seorang evolusionis: "Setiap karakteristik dari struktur dan organisasi gen hingga perkembangan, 
morfogenesis dan organisasi jaringan sangat berbeda (pada bulu dan sisik)."1 Di samping itu, Prof. Brush meneliti 
struktur protein bulu burung dan menyatakan bahwa protein tersebut "sangat khas dan tidak dijumpai pada 
vertebrata lain."


Tidak ada catatan fosil yang membuktikan bahwa bulu burung berevolusi dari sisik reptil. Sebaliknya seperti diungkapkan 
Prof. Brush, "Bulu-bulu muncul tiba-tiba dalam catatan fosil, secara tak terbantahkan sebagai ciri unik 
yang membedakan burung." Di samping itu, pada reptil tidak ditemukan struktur epidermis yang dirujuk sebagai 
asal mula bulu burung.





Pada tahun 1996, ahli-ahli paleontologi membuat kegemparan tentang fosil suatu spesies yang disebut dinosaurus 
berbulu, yang dinamakan Sinosauropteryx. Akan tetapi, pada tahun 1997, terungkap bahwa fosil-fosil ini tidak 
berhubungan dengan burung dan bulu mereka bukan bulu modern.





Sebaliknya, jika kita mengamati bulu burung secara saksama, kita mendapati suatu desain sangat kompleks yang 
sama sekali tidak dapat dijelaskan dengan proses evolusi. Seorang ahli burung terkenal, Alan Feduccia, 
mengatakan bahwa "setiap lembar bulu memiliki fungsi-fungsi aerodinamis. Bulu-bulu tersebut sangat ringan, 
dengan daya angkat yang membesar pada kecepatan semakin rendah, dan dapat kembali pada posisi semula 
dengan sangat mudah". Selanjutnya ia mengatakan, "Saya benar-benar tidak mengerti bagaimana sebuah organ 
yang didesain sempurna untuk terbang dianggap muncul untuk tujuan lain pada awalnya".





Desain bulu juga memaksa Charles Darwin merenungkannya. Bahkan, keindahan sempurna dari bulu merak jantan 
telah membuatnya "muak" (perkataannya sendiri). Dalam sebuah suratnya untuk Asa Gray pada tanggal 3 April 
1860, ia mengatakan, "Saya ingat betul ketika pemikiran tentang mata membuat sekujur tubuh saya demam, tetapi 
saya telah melewati itu...." Kemudian diteruskan: "... dan sekarang suatu bagian-bagian kecil di sebuah struktur 
sering membuat saya sangat tidak nyaman. Sehelai bulu pada ekor merak, membuat saya muak setiap kali 
menatapnya, ".

SPEKULASI EVOLUSIONIS: GIGI DAN CAKAR ARCHCOPTERYX


SPEKULASI EVOLUSIONIS: GIGI DAN CAKAR ARCHCOPTERYX

Dua hal penting yang diandalkan kaum evolusionis ketika menyatakan bahwa Archcopteryx merupakan 
bentuk transisi, adalah cakar pada sayap burung itu dan giginya.





Memang benar bahwa Archcopteryx memiliki cakar pada sayapnya dan gigi dalam mulutnya, tetapi ciri-ciri 
ini tidak berarti bahwa makhluk ini berkerabat dengan reptil. Di samping itu, dua spesies burung yang hidup 
saat ini, Taouraco dan Hoatzin, keduanya memiliki cakar untuk berpegangan pada cabang-cabang pohon. 
Kedua makhluk ini sepenuhnya burung tanpa karakteristik reptil. Karena itu, pernyataan bahwa 
Archcopteryx adalah bentuk transisi hanya karena cakar pada sayapnya, sama sekali tidak berdasar.





Gigi pada paruh Archcopteryx juga tidak menunjukkan bahwa makhluk ini adalah bentuk transisi. 
Evolusionis sengaja melakukan penipuan dengan mengatakan bahwa gigi-gigi ini adalah karakteristik reptil. 
Bagaimanapun, gigi bukan ciri khas reptil. Kini, banyak reptil yang memang bergigi, dan banyak pula yang 
tidak. Lagi pula, Archcopteryx bukan satu-satunya spesies burung yang memiliki gigi. Memang benar bahwa 
saat ini tidak ada lagi burung yang memiliki gigi. Namun jika kita mengamati catatan fosil, kita akan 
menemukan bahwa di zaman Archcopteryx dan setelahnya, bahkan hingga baru-baru ini, terdapat suatu 
genus burung yang dapat dikategorikan sebagai "burung bergigi".






Hal yang terpenting adalah bahwa struktur gigi Archcopteryx dan burung-burung lain yang bergigi
sama sekali berbeda dengan struktur gigi dinosaurus, yang dianggap nenek moyang mereka. Beberapa 
ahli ornitologi terkenal, Martin, Steward dan Whetstone mengamati bahwa Archcopteryx dan burung-burung 
bergigi lainnya memiliki gigi dengan permukaan-atas datar dan berakar besar. Namun, gigi dinosaurus 
teropoda, nenek moyang hipotetis burung-burung ini, menonjol seperti gerigi gergaji dan memiliki akar 
menyempit.5 Para peneliti juga membandingkan tulang-tulang pergelangan pada Archcopteryx dan 
dinosaurus, dan tidak menemukan kemiripan di antara mereka. 







John Ostrom adalah seorang ahli terkemuka yang menyatakan bahwa Archcopteryx berevolusi dari 
dinosaurus. Namun penelitian ahli anatomi seperti Tarsitano, Hecht dan A.D. Walker mengungkapkan 
bahwa pendapatnya tentang sejumlah "kemiripan" antara Archcopteryx dan dinosaurus, pada kenyataannya 
adalah penafsiran yang salah.







Semua penemuan ini menunjukkan bahwa Archcopteryx bukanlah bentuk transisi, melainkan hanya sejenis 
burung yang termasuk kategori "burung bergigi".















SATU LAGI BENTUK TRANSISI HIPOTETIS: ARCHCOPTERYX


SATU LAGI BENTUK TRANSISI HIPOTETIS: ARCHCOPTERYX

Sebagai jawaban, evolusionis mengajukan satu makhluk yaitu fosil bu-rung yang disebut Archcopteryx. 
Burung ini dikenal luas sebagai salah satu 'bentuk transisi' dari hanya beberapa yang masih mereka 
pertahankan. Archcopteryx, nenek moyang burung modern menurut kaum evolusionis, hidup 150 juta tahun 
lalu. Teori tersebut menyatakan bahwa sejenis dinosaurus berukuran kecil yang disebut Velociraptor atau 
Dromeosaurus berevolusi dengan mendapatkan sayap dan kemudian mulai terbang. Archcopteryx 
diasumsikan sebagai makhluk transisi dari dinosaurus, nenek moyangnya, dan kemudian terbang untuk 
pertama kalinya.





Akan tetapi, penelitian terakhir pada fosil Archcopteryx menunjukkan bahwa makhluk ini sama sekali bukan 
bentuk transisi, melainkan spesies burung dengan beberapa karakteristik yang berbeda dari burung masa 
kini.



Hingga beberapa waktu yang lalu, pernyataan bahwa Archcopteryx merupakan makhluk "separo burung" 
yang tidak dapat terbang dengan sempurna, masih sangat populer di kalangan evolusionis. Ketiadaan 
sternum (tulang dada) pada makhluk ini, atau paling tidak perbedaannya dengan sternum milik unggas yang 
dapat terbang, dianggap sebagai bukti paling penting bahwa burung ini tidak dapat terbang secara 
sempurna. (Tulang dada terdapat di bawah toraks, sebagai tempat bertambatnya otot-otot yang digunakan 
untuk terbang. Pada masa kini, tulang dada terdapat pada semua unggas yang dapat atau tidak dapat 
terbang, dan bah-kan pada kelelawar - mamalia terbang dari famili yang sangat berbeda).



Namun, fosil Archcopteryx ketujuh yang ditemukan pada tahun 1992 menimbulkan kegemparan luar 
biasa di kalangan evolusionis. Pada fosil Archcopteryx tersebut, tulang dada yang sejak lama dianggap 
hilang oleh evolusionis ternyata benar-benar ada. Fosil temuan terakhir itu digambarkan oleh majalah 
Nature sebagai berikut:





Fosil Archcopteryx ketujuh yang baru-baru ini ditemukan masih memiliki sebagian sternum berbentuk 
persegi panjang. Sternum ini sudah lama diperkirakan ada, tetapi tidak pernah terdokumentasikan 
sebelumnya. Temuan tersebut membuktikan bahwa makhluk ini memiliki otot-otot kuat untuk terbang.





Penemuan ini menggugurkan pernyataan bahwa Archcopteryx adalah makhluk setengah burung yang tidak 
dapat terbang dengan baik.




Di sisi lain, struktur bulu burung tersebut menjadi salah satu bukti terpenting yang menegaskan bahwa 
Archcopteryx benar-benar burung yang dapat terbang. Struktur bulu Archcopteryx yang asimetris tidak 
berbeda dari burung modern, menunjukkan bahwa binatang ini dapat terbang dengan sempurna. Seorang 
ahli paleontologi terkenal, Carl O. Dunbar menyatakan, "Karena bulunya, Archcopteryx dipastikan termasuk 
kelas burung."





Fakta lain yang terungkap dari struktur bulu Archcopteryx adalah bahwa hewan ini berdarah panas. 
Sebagaimana telah diketahui, reptil dan dinosaurus adalah binatang berdarah dingin yang dipengaruhi oleh 
suhu lingkungan, dan tidak dapat mengendalikan sendiri suhu tubuh mereka. Fungsi terpenting bulu burung 
adalah untuk mempertahankan suhu tubuh. Fakta bahwa Archcopteryx memiliki bulu menunjukkan bahwa 
makhluk ini benar-benar seekor burung berdarah panas yang perlu mempertahankan suhu tubuh, 
sementara dinosaurus tidak.


ASAL-USUL BURUNG DAN MAMALIA



ASAL-USUL BURUNG DAN MAMALIA

Menurut teori evolusi, kehidupan berawal dan berevolusi di laut, kemudian amfibi memindahkannya ke 
darat. Skenario evolusi ini juga menyatakan bahwa amfibi kemudian berevolusi menjadi reptil, makhluk yang 
hanya hidup di darat. Sekali lagi skenario ini tidak masuk akal, karena terdapat perbedaan-perbedaan 
struktural yang jauh antara dua kelompok besar hewan ini. Misalnya, telur amfibi didesain untuk 
berkembang di dalam air sedangkan telur amniotik reptil didesain untuk berkembang di darat. Evolusi 
"bertahap" amfibi adalah mustahil, sebab tanpa telur yang didesain dengan baik dan sempurna, tidak 
mungkin sebuah spesies dapat bertahan hidup. Selain itu, seperti biasa, tidak ada bukti bentuk transisi yang 
mestinya menghubungkan amfibi dengan reptil. Robert L. Carrol, seorang ahli paleontologi evolusionis 
dengan spesialisasi di bidang paleontologi vertebrata, mengakui bahwa "reptil-reptil awal sangat berbeda 
dengan amfibi dan nenek moyang mereka belum dapat ditemukan."

Akan tetapi, skenario evolusionis tanpa harapan ini belum juga berakhir. Masih ada masalah, bagaimana 
membuat mahkluk-makhluk ini bisa terbang! Karena mempercayai burung sebagai hasil evolusi, evolusionis 
berkeras bahwa burung-burung tersebut berasal dari reptil. Akan tetapi, tidak ada satu pun mekanisme khas 
burung dengan struktur yang sepenuhnya berbeda dengan binatang darat dapat dijelaskan dengan evolusi 
bertahap. Misalnya sayap, sebagai satu ciri khas burung, merupakan jalan buntu bagi para evolusionis. 
Seorang evolusionis dari Turki, Engin Korur, mengakui kemustahilan evolusi sayap:

Ciri yang sama antara mata dan sayap adalah bahwa keduanya hanya berfungsi jika telah berkembang 
sempurna. Dengan kata lain, mata setengah jadi tidak dapat melihat; seekor burung dengan sayap 
setengah jadi tidak dapat terbang. Tentang bagaimana organ-organ ini muncul, masih merupakan salah 
satu misteri alam yang perlu dicari penjelasannya.

Pertanyaan bagaimana struktur sayap yang sempurna muncul dari serangkaian mutasi acak, masih belum 
terjawab sama sekali. Adalah penjelasan yang tidak mungkin bahwa lengan depan reptil dapat berubah 
menjadi sayap yang berfungsi sempurna sebagai hasil distorsi pada gen-gennya (mutasi).

Lagi pula, sekadar memiliki sayap tidak memadai bagi organisme darat untuk terbang. Organisme darat 
tidak memiliki mekanisme-mekanisme struktural lain yang digunakan burung untuk terbang. Misalnya, 
tulang-tulang burung jauh lebih ringan daripada tulang-tulang organisme darat. Cara kerja paru-paru mereka 
sangat berbeda. Mereka memiliki sistem otot dan rangka yang berbeda dan sistem jantung-peredaran darah 
yang sangat khas. Ciri-ciri ini adalah prasyarat untuk bisa terbang, yang sama pentingnya dengan sayap. 
Semua mekanisme ini harus ada seluruhnya pada saat bersamaan; semuanya tidak mungkin terbentuk 
sedikit demi sedikit dengan cara "terakumulasi". Karena itulah teori yang menyatakan bahwa organisme 
darat berevolusi menjadi organisme terbang benar-benar menyesatkan.

Semua ini menimbulkan pertanyaan baru: kalaupun kisah mustahil ini kita anggap benar, mengapa
evolusionis tidak mampu menemukan fosil-fosil "bersayap setengah" atau "bersayap tunggal" untuk 
mendukung kisah mereka?

FOKUS: MENGAPA TRANSISI DARI AIR KE DARAT TIDAK MUNGKIN



FOKUS: MENGAPA TRANSISI DARI AIR KE DARAT TIDAK MUNGKIN

Evolusionis menyatakan bahwa suatu ketika, spesies yang hidup di air naik ke darat dan berubah 
menjadi spesies darat. Ada sejumlah fakta yang sangat jelas menunjukkan kemustahilan transisi 
seperti itu:

1. Keharusan membawa beban tubuh: makhluk penghuni air membawa be-ban tubuh mereka 
tanpa masalah. Tetapi, bagi sebagian besar binatang darat, 40% energi mereka habis hanya untuk 
membawa beban tubuh me-reka. Makhluk hidup yang berpindah dari air ke darat harus 
mengembang-kan sistem otot dan kerangka baru (!) secara bersamaan agar dapat memenuhi 
kebutuhan energi ini. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi melalui mutasi kebetulan.

2. Daya tahan terhadap panas: suhu daratan dapat berubah dengan cepat dan naik-turun dalam rentang yang lebar. 
Makhluk hidup di darat memiliki mekanisme tubuh yang dapat menahan perubahan-perubahan suhu yang besar itu. 
Akan tetapi, suhu lautan berubah secara perlahan dan perubahan tersebut tidak terjadi dalam rentang yang terlalu 
lebar. Organisme hidup dengan sistem tubuh sesuai temperatur laut yang konstan akan membutuhkan suatu sistem 
perlindungan agar perubahan suhu di darat tidak akan membahayakan. Sangat tidak masuk akal bahwa ikan 
mendapatkan sistem tersebut melalui mutasi acak segera setelah mereka naik ke darat.

3. Penggunaan air: air dan kelembaban yang penting untuk metabolisme harus digunakan sehemat mungkin karena 
kelangkaan sumber air di darat. Sebagai contoh, kulit harus dirancang agar dapat mengeluarkan air sejumlah tertentu, 
sekaligus mencegah penguapan berlebihan. Karenanya, makhluk hidup di darat memiliki rasa haus karakteristik yang 
tidak dimiliki organisme air. Di samping itu, kulit tubuh hewan air tidak sesuai untuk habitat non-air.

4. Ginjal: organisme air dapat dengan mudah membuang zat-zat sisa dalam tubuh mereka (terutama amonia) dengan 
penyaringan, karena banyaknya air dalam habitat mereka. Di darat, air harus digunakan sehemat mungkin. Itulah 
sebabnya hewan darat memiliki sistem ginjal. Berkat ginjal, amonia disimpan dengan cara mengubahnya menjadi urea 
dan hanya membutuhkan sejumlah kecil air untuk membuangnya. Di samping itu, beberapa sistem baru dibutuhkan 
untuk membuat ginjal berfungsi. Singkatnya, agar perpindahan dari air ke darat dapat terjadi, makhluk hidup tanpa 
ginjal harus membentuk sistem ginjal secara tiba-tiba.

5. Sistem pernapasan: ikan "bernapas" dengan mengambil oksigen yang terlarut dalam air yang mereka alirkan 
melewati insang. Mereka tidak mampu hidup lebih dari beberapa menit di luar air. Agar mampu hidup di darat, me-reka 
harus mendapatkan sistem paru-paru yang sempurna secara tiba-tiba.

Tentu saja mustahil bahwa semua perubahan fisiologis yang dramatis ini dapat terjadi pada organisme yang sama, 
pada saat bersamaan, dan secara kebetulan.

DONGENG TENTANG TRANSISI DARI AIR KE DARAT



DONGENG TENTANG TRANSISI DARI AIR KE DARAT

Evolusionis mengasumsikan invertebrata laut yang muncul pada periode Kambrium berevolusi menjadi ikan 
dalam waktu puluhan juta tahun. Tetapi sebagaimana invertebrata-invertebrata Kambrium tidak memiliki 
nenek moyang, juga tidak ditemukan mata rantai transisi yang menunjukkan bahwa evolusi terjadi antara 
jenis-jenis invertebrata ini dengan ikan. Perlu dicatat bahwa invertebrata dan ikan memiliki perbedaan 
struktural yang sangat besar. Invertebrata memiliki jaringan keras di luar tubuh mereka, sedangkan ikan 
adalah vertebrata dengan jaringan keras di dalam tubuh. "Evolusi" sebesar itu tentu akan melalui miliaran 
tahap, dan seharusnya ada miliaran bentuk transisi yang menunjukkan tahapan-tahapan tersebut.

Evolusionis telah menggali lapisan-lapisan fosil selama kurang lebih 140 tahun untuk mencari bentuk-bentuk 
hipotetis tersebut. Mereka telah menemukan jutaan fosil invertebrata dan jutaan fosil ikan; tetapi tidak 
pernah menemukan satu bentuk peralihan pun antara invertebrata dan ikan.

Ahli paleontologi evolusionis, Gerald T. Todd, mengakui fakta ini dalam artikel "Evolusi Paru-Paru dan Asal 
Usul Ikan":

Ketiga subdivisi ikan bertulang muncul pertama kali dalam catatan fosil pada saat yang kira-kira bersamaan. 
Secara morfologis mereka telah sangat beragam, dan mereka memiliki tubuh yang sangat terlindung. 
Bagaimana mereka berasal mula? Apa yang memungkinkan mereka sangat beraneka ragam? Bagaimana 
mereka semua memiliki pelindung tubuh yang kuat? Dan mengapa tidak ada jejak bentuk-bentuk peralihan 
sebelumnya?

Skenario evolusi beranjak selangkah lebih jauh dan menyatakan bahwa ikan, yang berevolusi dari
invertebrata, kemudian berubah menjadi amfibi. Akan tetapi, skenario ini juga tidak memiliki bukti. Tidak ada 
satu fosil pun yang menunjukkan bahwa pernah terdapat makhluk separo ikan - separo amfibi. Dengan 
enggan, kenyataan ini dibenarkan oleh Robert L. Carrol, seorang evolusionis terkenal, penulis buku 
Vertebrate Paleontology and Evolution: "Kami tidak memiliki fosil peralihan antara ikan rhipidistian 
(favoritnya untuk 'nenek moyang' tetrapoda) dan amfibi-amfibi awal."2 Dua orang ahli paleontologi
evolusionis, Colbert dan Morales, berkomentar mengenai tiga kelompok utama amfibi: katak, salamander 
dan caecilian:

Tidak ada bukti keberadaan amfibi Paleozoik yang menggabungkan sifat-sifat yang diperkirakan
dimiliki satu nenek moyang yang sama. Katak, salamander dan caecilian paling tua sangat mirip dengan 
keturunan mereka yang masih hidup.

Sampai sekitar 50 tahun yang lalu, evolusionis meyakini bahwa makhluk semacam ini benar-benar pernah 
ada. Ikan ini disebut 'Coelacanth' dan diperkirakan berumur 410 juta tahun. Coelacanth diajukan sebagai 
bentuk transisi dengan paru-paru primitif, otak yang telah berkembang, sistem pencernaan dan peredaran 
darah yang siap untuk berfungsi di darat, dan bahkan mekanisme berjalan yang primitif. Penafsiranpenafsiran 
anatomis ini diterima sebagai kebenaran yang tidak diperdebatkan lagi di kalangan ilmuwan 
hingga akhir tahun 1930-an. Coelacanth dianggap sebagai bentuk peralihan sesungguhnya yang 
membuktikan transisi evolusioner dari air ke darat.

Namun pada tanggal 22 Desember 1938, terjadi sebuah penemuan yang sangat menarik di Samudera 
Hindia. Di sana berhasil ditangkap hidup-hidup salah satu anggota famili Coelacanth, yang sebelumnya 
diajukan sebagai bentuk transisi yang telah punah 70 juta tahun lalu! Tak diragukan lagi, penemuan 
prototipe Coelacanth "hidup" ini menjadi pukulan hebat bagi para evolusionis. Seorang ahli paleontologi 
evolusionis, J.L.B. Smith, mengatakan bahwa ia tak akan sekaget ini jika bertemu dengan seekor 
dinosaurus hidup.4 Pada tahun-tahun berikutnya, 200 ekor Coelacanth berhasil ditangkap di berbagai 
penjuru dunia.

Bukti Coelacanth hidup memperlihatkan sejauh mana evolusionis dapat mengarang skenario khayalan 
mereka. Bertentangan dengan klaim mereka, Coelacanth ternyata tidak memiliki paru-paru primitif dan tidak 
pula otak yang besar. Organ yang dianggap oleh peneliti evolusionis sebagai paru-paru primitif ternyata 
hanya kantong lemak.5 Terlebih lagi, Coelacanth yang dikatakan sebagai "calon reptil yang sedang bersiap 
meninggalkan laut menuju daratan", pada kenyataannya adalah ikan yang hidup di dasar samudra dan tidak 
pernah mendekati kurang dari 180 meter di bawah permukaan laut.


KEHIDUPAN MUNCUL DI MUKA BUMI DENGAN TIBA-TIBA DAN DALAM BENTUK KOMPLEKS



KEHIDUPAN MUNCUL DI MUKA BUMI DENGAN TIBA-TIBA DAN DALAM BENTUK KOMPLEKS

Ketika lapisan bumi dan catatan fosil dipelajari, terlihat bahwa semua makhluk hidup muncul bersamaan. 
Lapisan bumi tertua tempat fosil-fosil makhluk hidup ditemukan adalah Kambrium, yang diperkirakan 
berusia 500-550 juta tahun.

Catatan fosil memperlihatkan, makhluk hidup yang ditemukan pada lapisan bumi periode Kambrium muncul 
dengan tiba-tiba - tidak ada nenek moyang yang hidup sebelumnya. Fosil-fosil di dalam batu-batuan 
Kambrium berasal dari siput, trilobita, bunga karang, cacing tanah, ubur-ubur, landak laut dan invertebrata 
kompleks lainnya. Beragam makhluk hidup yang kompleks muncul begitu tiba-tiba, sehingga literatur 
geologi menyebut kejadian ajaib ini sebagai "Ledakan Kambrium" (Cambrian Explosion).

Sebagian besar bentuk kehidupan yang ditemukan dalam lapisan ini memiliki sistem kompleks seperti mata, 
insang, sistem peredaran darah, dan struktur fisiologis maju yang tidak berbeda dengan kerabat modern 
mereka. Misalnya, struktur mata majemuk berlensa ganda dari trilobita adalah suatu keajaiban desain. 
David Raup, seorang profesor geologi di Universitas Harvard, Universitas Rochester dan Universitas 
Chicago mengatakan: "Trilobita memiliki desain optimal, hingga dibutuhkan seorang rekayasawan 
optik yang sangat terlatih dan sangat imajinatif jika ingin membuatnya di masa kini".

Binatang-binatang invertebrata kompleks ini muncul secara tiba-tiba dan sempurna tanpa memiliki kaitan 
atau bentuk transisi apa pun dengan organisme bersel satu yang merupakan satu-satunya bentuk 
kehidupan di bumi sebelum mereka.

Richard Monastersky, editor Earth Sciences, salah satu terbitan populer dalam literatur evolusionis, 
memberikan pernyataan di bawah ini mengenai "Ledakan Kambrium" yang muncul sebagai kejutan besar 
bagi evolusionis:

Setengah milyar tahun lalu, binatang-binatang dengan bentuk-bentuk sangat kompleks seperti yang kita 
lihat pada masa kini muncul secara tiba-tiba. Momen ini, tepat di awal Periode Kambrium Bumi sekitar 550 
juta tahun lalu, menandai ledakan evolusioner yang mengisi lautan dengan makhluk-makhluk hidup 
kompleks pertama di dunia. Filum binatang besar masa kini ternyata telah ada di awal masa Kambrium. 
Binatang-binatang pertama itu pun berbeda satu sama lain sebagaimana binatang-binatang saat ini.

Bagaimana bumi ini dipenuhi berbagai jenis binatang secara tiba-tiba dan bagaimana spesies-spesies yang 
berbeda-beda ini muncul tanpa nenek moyang yang sama adalah pertanyaan yang masih belum terjawab 
oleh evolusionis. Richard Dawkins, ahli zoologi Oxford, salah satu pembela evolusionis terkemuka di dunia, 
berkomentar mengenai realitas ini:

Sebagai contoh, lapisan batuan Kambrium yang berumur sekitar 600 juta tahun, adalah lapisan tertua di 
mana kita menemukan sebagian besar kelompok utama invertebrata. Dan kita dapati sebagian besarnya 
telah berada pada tahap lanjutan evolusi, saat pertama kali mereka muncul. Mereka seolah-olah 
ditempatkan begitu saja di sana, tanpa proses evolusi. Tentu saja, kesimpulan tentang kemunculan tibatiba 
ini menggembirakan kreasionis.

Dawkins terpaksa mengakui, "Ledakan Kambrium" adalah bukti kuat adanya penciptaan, karena penciptaan 
adalah satu-satunya penjelasan mengenai kemunculan bentuk-bentuk kehidupan yang sempurna secara 
tiba-tiba di bumi ini. Douglas Futuyma, ahli biologi evolusionis terkemuka mengakui fakta ini dan 
mengatakan: "Organisme muncul di muka bumi dengan dua kemungkinan: dalam bentuk yang telah 
sempurna atau tidak sempurna. Jika muncul dalam bentuk tidak sempurna, mereka pasti telah berkembang 
dari spesies yang telah ada sebelumnya melalui proses modifikasi. Jika mereka memang muncul dalam 
keadaan sudah berkembang sempurna, mereka pasti telah diciptakan oleh suatu kecerdasan dengan 
kekuasaan tak terbatas."9 Darwin sendiri menyadari kemungkinan ini ketika menulis: "Jika banyak spesies 
benar-benar muncul dalam kehidupan secara serempak dari genera atau famili-famili yang sama, fakta ini 
akan berakibat fatal bagi teori penurunan dengan modifikasi perlahan-lahan melalui seleksi alam."10 
Agaknya, periode Kambrium merupakan "pukulan mematikan" bagi Darwin. Inilah yang membuat seorang
ahli paleo-antropologi evolusionis dari Swiss, Stefan Bengston, mengakui ketiadaan mata rantai transisi saat 
ia menjelaskan tentang periode Kambrium. Ia mengatakan: "Peristiwa yang mengecewakan (dan 
memalukan) bagi Darwin ini masih membingungkan kami".

Seperti yang kita pahami, catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup tidak berevolusi dari bentuk 
primitif ke bentuk yang lebih maju, tetapi muncul secara tiba-tiba dan dalam keadaan sempurna. 
Ringkasnya, makhluk hidup tidak muncul melalui evolusi, tetapi diciptakan.

FOSIL-FOSIL HIDUP



FOSIL-FOSIL HIDUP

Teori evolusi menyatakan bahwa spesies makhluk hidup terus-menerus berevolusi menjadi spesies lain. Namun 
ketika kita membandingkan makhluk hidup dengan fosil-fosil mereka, kita melihat bahwa mereka tidak berubah 
setelah jutaan tahun. Fakta ini adalah bukti nyata yang meruntuhkan pernyataan evolusionis.

Pict. Of Honeybee: Lebah madu hidup tidak berbeda dengan fosil kerabatnya 
yang berumur jutaan tahun lalu.

Pict of Dragonfly: Fosil capung berumur 135 juta tahun tidak berbeda dengan 
kerabat modernnya.

Pict of starfish: Fosil bintang laut berumur 400 juta tahun tidak mengalami 
perubahan hingga kini.

CATATAN FOSIL MEMBANTAH EVOLUSI



CATATAN FOSIL MEMBANTAH EVOLUSI

Menurut teori evolusi, setiap spesies hidup berasal dari satu nenek moyang. Spesies yang ada sebelumnya 
lambat laun berubah menjadi spesies lain, dan semua spesies muncul dengan cara ini. Menurut teori 
tersebut, perubahan ini berlangsung sedikit demi sedikit dalam jangka waktu jutaan tahun.

Dengan demikian, maka seharusnya pernah terdapat sangat banyak spesies peralihan selama periode 
perubahan yang panjang ini.

Sebagai contoh, seharusnya terdapat beberapa jenis makhluk setengah ikan - setengah reptil di masa 
lampau, dengan beberapa ciri reptil sebagai tambahan pada ciri ikan yang telah mereka miliki. Atau 
seharusnya terdapat beberapa jenis burung-reptil dengan beberapa ciri burung di samping ciri reptil yang 
telah mereka miliki. Evolusionis menyebut makhluk-makhluk imajiner yang mereka yakini hidup di masa lalu 
ini sebagai "bentuk transisi".

Jika binatang-binatang seperti ini memang pernah ada, maka seharusnya mereka muncul dalam jumlah dan 
variasi sampai jutaan atau milyaran. Lebih penting lagi, sisa-sisa makhluk-makhluk aneh ini seharusnya ada 
pada catatan fosil. Jumlah bentuk-bentuk peralihan ini pun semestinya jauh lebih besar daripada spesies 
binatang masa kini dan sisa-sisa mereka seharusnya ditemukan di seluruh penjuru dunia. Dalam The Origin 
of Species, Darwin menjelaskan:

"Jika teori saya benar, pasti pernah terdapat jenis-jenis bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang 
mengaitkan semua spesies dari kelompok yang sama…. Sudah tentu bukti keberadaan mereka di masa 
lampau hanya dapat ditemukan pada peninggalan-peninggalan fosil." 

Bahkan Darwin sendiri sadar akan ketiadaan bentuk-bentuk peralihan tersebut. Ia berharap bentuk-bentuk 
peralihan itu akan ditemukan di masa mendatang. Namun di balik harapan besarnya ini, ia sadar bahwa 
rintangan utama teorinya adalah ketiadaan bentuk-bentuk peralihan. Karena itulah dalam buku The Origin of 
Species, pada bab "Difficulties of the Theory" ia menulis:

... Jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, mengapa 
kita tidak melihat sejumlah besar bentuk transisi di mana pun? Mengapa alam tidak berada dalam 
keadaan kacau-balau, tetapi justru seperti kita lihat, spesies-spesies hidup dengan bentuk sebaikbaiknya?.... 
Menurut teori ini harus ada bentuk-bentuk peralihan dalam jumlah besar, tetapi mengapa kita 
tidak menemukan mereka terkubur di kerak bumi dalam jumlah tidak terhitung?.... Dan pada daerah 
peralihan, yang memiliki kondisi hidup peralihan, mengapa sekarang tidak kita temukan jenis-jenis peralihan 
dengan kekerabatan yang erat? Telah lama kesulitan ini sangat membingungkan saya.

Satu-satunya penjelasan Darwin atas hal ini adalah bahwa catatan fosil yang telah ditemukan hingga kini 
belum memadai. Ia menegaskan jika catatan fosil dipelajari secara terperinci, mata rantai yang hilang akan 
ditemukan.

Karena mempercayai ramalan Darwin, kaum evolusionis telah berburu fosil dan melakukan penggalian 
mencari mata rantai yang hilang di seluruh penjuru dunia sejak pertengahan abad ke-19. Walaupun mereka 
telah bekerja keras, tak satu pun bentuk transisi ditemukan. Bertentangan dengan kepercayaan 
evolusionis, semua fosil yang ditemukan justru membuktikan bahwa kehidupan muncul di bumi secara tibatiba 
dan dalam bentuk yang telah lengkap. Usaha mereka untuk membuktikan teori evolusi justru tanpa 
sengaja telah meruntuhkan teori itu sendiri.

Seorang ahli paleontologi Inggris ternama, Derek V. Ager, mengakui fakta ini meskipun dirinya seorang 
evolusionis:

Jika kita mengamati catatan fosil secara terperinci, baik pada tingkat ordo maupun spesies, maka yang 
selalu kita temukan bukanlah evolusi bertahap, namun ledakan tiba-tiba satu kelompok makhluk 
hidup yang disertai kepunahan kelompok lain.

Ahli paleontologi evolusionis lainnya, Mark Czarnecki, berkomentar sebagai berikut:

Kendala utama dalam membuktikan teori evolusi selama ini adalah catatan fosil; jejak spesies-spesies yang 
terawetkan dalam lapisan bumi. Catatan fosil belum pernah mengungkapkan jejak-jejak jenis peralihan 
hipotetis Darwin - sebaliknya, spesies muncul dan musnah secara tiba-tiba. Anomali ini menguatkan 
argumentasi kreasionis*) bahwa setiap spesies diciptakan oleh Tuhan.

Mereka juga harus mengakui ke-sia-siaan menunggu kemunculan bentuk-bentuk transisi yang "hilang" di 
masa mendatang, seperti yang dijelaskan seorang profesor paleontologi dari Universitas Glasgow, T. 
Neville George:

Tidak ada gunanya lagi menjadikan keterbatasan catatan fosil sebagai alasan. Entah bagaimana, catatan 
fosil menjadi berlimpah dan hampir tidak dapat dikelola, dan penemuan bermunculan lebih cepat dari 
pengintegrasian... Bagaimanapun, akan selalu ada kekosongan pada catatan fosil.

MUTASI



MUTASI

Mutasi didefinisikan sebagai pemutusan atau penggantian yang terjadi pada molekul DNA, yang terdapat
dalam inti sel makhluk hidup dan berisi semua informasi genetis. Pemutusan atau penggantian ini
diakibatkan pengaruh-pengaruh luar seperti radiasi atau reaksi kimiawi. Setiap mutasi adalah "kecelakaan"
dan merusak nukleotida-nukleotida yang membangun DNA atau mengubah posisinya. Hampir selalu,
mutasi menyebabkan kerusakan dan perubahan yang sedemikian parah sehingga tidak dapat diperbaiki
oleh sel tersebut.

Mutasi, yang sering dijadikan tempat berlindung evolusionis, bukan tongkat sihir yang dapat mengubah
makhluk hidup ke bentuk yang lebih maju dan sempurna. Akibat langsung mutasi sungguh berbahaya.
Perubahan-perubahan akibat mutasi hanya akan be-rupa kematian, cacat dan abnormalitas, seperti yang
dialami oleh penduduk Hiroshima, Nagasaki dan Chernobyl. Alasannya sangat sederhana: DNA memiliki
struktur teramat kompleks, dan pengaruh-pengaruh yang acak hanya akan menyebabkan kerusakan pada
struktur tersebut. B.G. Ranganathan menyatakan:

Mutasi bersifat kecil, acak dan berbahaya. Mutasi pun jarang terjadi dan kalau-pun terjadi, kemungkinan
besar mutasi itu tidak berguna. Empat karakteristik mutasi ini menunjukkan bahwa mutasi tidak dapat
mengarah pada perkembangan evolusioner. Suatu perubahan acak pada organisme yang sangat
terspesialisasi bersifat tidak berguna atau membahayakan. Perubahan acak pada sebuah jam tidak dapat
memperbaiki, malah kemungkinan besar akan merusaknya atau tidak berpengaruh sama sekali. Gempa
bumi tidak akan memperbaiki kota, tetapi menghancurkannya.


Tidak mengherankan, sejauh ini tidak ditemukan satu mutasi pun yang berguna. Semua mutasi telah
terbukti membahayakan. Seorang ilmuwan evolusionis, Warren Weaver, mengomentari laporan The
Committee on Genetic Effects of Atomic Radiation, sebuah komite yang meneliti mutasi yang mungkin
disebabkan oleh senjata-senjata nuklir selama Perang Dunia II, sebagai berikut:

Banyak orang akan tercengang oleh pernyataan bahwa hampir semua gen mu-tan yang diketahui ternyata
membahayakan. Jika mutasi adalah bagian penting dalam proses evolusi, bagaimana mungkin sebuah efek
yang baik - evolusi ke bentuk kehidupan lebih tinggi - berasal dari mutasi yang hampir semuanya
berbahaya?


Setiap upaya untuk "menghasilkan mutasi yang menguntungkan" berakhir dengan kegagalan. Selama
puluhan tahun, evolusionis melakukan berbagai percobaan untuk menghasilkan mutasi pada lalat buah,
karena serangga ini bereproduksi sangat cepat sehingga mutasi akan muncul dengan cepat pula. Dari
generasi ke generasi lalat ini telah dimutasikan, tetapi mutasi yang menguntungkan tidak pernah dihasilkan.
Seorang ahli genetika evolusionis, Gordon Taylor, menulis:

Pada ribuan percobaan pengembangbiakan lalat yang dilakukan di seluruh dunia selama lebih dari 50
tahun, tidak ada spesies baru yang muncul... bahkan satu enzim baru pun tidak.


Seorang peneliti lain, Michael Pitman, berkomentar tentang kegagalan percobaan-percobaan yang
dilakukan terhadap lalat buah:

Morgan, Goldschmidt, Muller, dan ahli-ahli genetika lain telah menempatkan beberapa generasi lalat buah
pada kondisi ekstrem seperti panas, dingin, terang, gelap dan perlakuan dengan zat kimia dan radiasi.
Segala macam jenis mutasi, baik yang hampir tak berarti maupun yang positif merugikan, telah dihasilkan.
Inikah evolusi buatan manusia? Tidak juga. Hanya sebagian kecil monster buatan ahli-ahli genetika tersebut
yang mungkin mampu bertahan hidup di luar botol tempat mereka dikembangbiakkan. Pada kenyataannya,
mutan-mutan tersebut mati, mandul, atau cenderung kembali ke bentuk asal.

Hal yang sama berlaku bagi manusia. Semua mutasi yang teramati pada manusia mengakibatkan
kerusakan berupa cacat atau kelemahan fisik, misalnya mongolisme, sindroma Down, albinisme, dwarfisme
atau kanker. Namun, para evolusionis berusaha mengaburkan permasalahan, bahkan dalam buku-buku
pelajaran evolusionis contoh-contoh mutasi yang merusak ini disebut sebagai "bukti evolusi". Tidak perlu
dikatakan lagi, sebuah proses yang menyebabkan manusia cacat atau sakit tidak mungkin menjadi
"mekanisme evolusi" - evolusi seharusnya menghasilkan bentuk-bentuk yang lebih baik dan lebih mampu
bertahan hidup.

Sebagai rangkuman, ada tiga alasan utama mengapa mutasi tidak dapat dijadikan bukti yang mendukung
pernyataan evolusionis:
1) Efek langsung dari mutasi membahayakan. Mutasi terjadi secara acak, karenanya mutasi hampir
selalu merusak makhluk hidup yang mengalaminya. Logika mengatakan bahwa intervensi secara tak
sengaja pada sebuah struktur sempurna dan kompleks tidak akan mem-perbaiki struktur tersebut,
tetapi merusaknya. Dan memang, tidak per-nah ditemukan satu pun "mutasi yang bermanfaat".
2) Mutasi tidak menambahkan informasi baru pada DNA suatu organisme. Partikel-partikel penyusun
informasi genetika terenggut dari tempatnya, rusak atau terbawa ke tempat lain. Mutasi tidak dapat
memberi makhluk hidup organ atau sifat baru. Mutasi hanya meng-akibatkan ketidaknormalan
seperti kaki yang muncul di punggung, atau telinga yang tumbuh dari perut.
3) Agar dapat diwariskan pada generasi selanjutnya, mutasi harus terjadi pada sel-sel reproduksi organisme
tersebut. Perubahan acak yang terjadi pada sel biasa atau organ tubuh tidak dapat diwariskan kepada
generasi selanjutnya. Sebagai contoh, mata manusia yang berubah aki-bat efek radiasi atau sebab lain,
tidak akan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.

Singkatnya, makhluk hidup tidak mungkin berevolusi karena di alam tidak ada mekanisme yang
menyebabkannya. Kenyataan ini sesuai dengan bukti-bukti catatan fosil, yang menunjukkan bahwa skenario
evolusi sangat menyimpang dari kenyataan.