Senin, 20 Mei 2013

ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA

ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA

Bakteri yang lazim ditemukan dalam kehidupan sehari-hari pada umunya tergolong bakteri dari kelompok eubacteria. Namun sebenarnya terdapat kelompok bakteri yang disebut archaebacteria atau juga dikenal sebagai archaea. Kedua bakteri kelompok ini adalah sel mikroskopik yang tidak memiliki inti sel. Bakteri memiliki kromosom berbentuk melingkar dan berkembang biak dengan cara membelah diri. Saat ini telah dipastikan bahwa kedua jenis bakteri tersebut adalah prokariot dan perbedaan di antaranya tidak terlampau jauh. Akan tetapi, analisis sekuens ribosomal RNA mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan genetik antara archaebacteria dan eubacteria. Bahkan lebih jauh nampak bahwa achaea memiliki kekerabatan yang lebih dekat dengan urkariot, yaitu leluhur organisme eukariot masa kini.

Sebagian archaea memiliki DNA yang disertai sejenis protein yang serupa dengan histon. Protein ini memiliki homologi sekuens dengan histon yang dimiliki organisme tingkat tinggi. Detail proses sintesis dan faktor translasi archaea lebih mirip dengan proses serupa yang terjadi pada hewan eukariot. Hal ini mengakibatkan timbul dugaan bahwa eukariot purba berevolusi dari archaea.

Dari segi biokimia, archaea memiliki beberapa perbedaan besar dengan eubacteria, yaitu archaea tidak memiliki peptidoglikan serta membran sitoplasmanya tersusun atas lipida yang tidak lazim. Membran tersebut terbuat dari unit C5 isoprenoid dan bukannya unit C2 seperti asam lemak pada lazimnya. Rantai isoprenoid tersebut berikatan dengan gliserol melalui ikatan ether dan bukannya ikatan ester. Beberapa rantai hidrokarbon isoprenoid tersusun melintasi seluruh membran sel.

Archaea memiliki habitat di lingkungan yang tidak lazim, sebagian besar hewan ini beradaptasi dalam kondisi yang ekstrim. Archaea dapat ditemukan sumber mata air panas yang mengandung belerang, cerobong panas di dasar laut, di perairan yang tinggi kadar garamnya (seperti Laut Mati dan Danau Great Salt Lake), di dalam saluran usus hewan mamalia, serta tempat-tempat lain dimana bakteri tersebut dapat membentuk gas methan. Beberapa contoh organisme archaea adalah sebagai berikut.

• Halobacteria: organisme ini mampu mentoleransi kadar garam yang sangat tinggi dan masih bertahan hidup dalam lingkungan dengan kadar garam 5M NaCl. Akan tetapi organisme ini tidak dapat hidup dalam lingkungan dengan kadar garam di bawah 2,5M NaCl (kadar garam air laut hanya 0,6M). Makhluk ini mendapatkan energi dari sinar matahari dengan memanfaatkan molekul yang serupa dengan pigmen rhodopsin (seperti rhodopsin yang digunakan sebagai detektor cahaya pada hewan).

• Methanogen (bakteri penghasil methan): bakteri ini bersifat anaerob obligat dan sangat sensitif terhadap oksigen. Bakteri ini dapat mengkonversi H2 dan CO2 menjadi CH4 (methan). Metabolisme bakteri ini cukup unik karena memiliki koenzim yang tidak dimiliki organisme apapun, tetapi juga tidak memiliki flavin atau quinon yang khusus.

• Sulfolobus: bakteri ini hidup di sekitar sumber panas geotermal, habitat yang disukai adalah lingkungan dengan pH optimum 2-3 serta suhu 70-80oC. Archaea semacam ini mengoksidasi sulfur menjadi asam sulfurat. Jenis archaea lain yang dapat mengoksidasi sulfur umumnya juga ditemui di berbagai habitat yang ekstrim. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar