Senin, 06 Mei 2013

BAGAIMANA FASISME SPANYOL MEMANFAATKAN AGAMA


BAGAIMANA FASISME SPANYOL MEMANFAATKAN AGAMA

Sebagaimana telah kita pahami, fasisme adalah suatu ideologi yang secara fanatik menentang agama, tetapi kadang kala dapat saja menyembunyikan kebenciannya karena alasan politis, dan bahkan menampilkan dirinya seolah benarbenar taat beragama. Tujuan di balik keinginan kaum fasis agar tampak takut kepada Tuhan adalah untuk menyelewengkan konsep-konsep agama dari arti yang sebenarnya, dan mempergunakannya sebagai ala bagi sasaran-sasaran politik mereka.

Derajat komitmen fasisme terhadap agama berbeda-beda sesuai dengan kondisi masyarakat tempat ia berada. Nazisme hanya merasakan sedikit kebutuhan untuk melakukan hal semacam itu, karena ia berkembang di dalam masyarakat Jerman, yang telah jauh dari agama. Namun, di Italia, Mussolini berusaha mengontrol masyarakat yang jauh lebih religius, dan karenanya merasakan kebutuhan yang lebih besar untuk memainkan peranan bermuka dua semacam itu. Jika kita cermati contoh di Spanyol, kita sekali lagi melihat suatu masyarakat beragama dan sebuah fasisme dengan wajah religius. Pemimpin jenis fasisme ini adalah Francisco Franco.

Ideologi Franco dikenal sebagai Falangisme. Istilah tersebut datang dari kataFalange (atau Falange Espanola T radicionalista Y De L as Juntas De Ofensiva Nacional-Sindicalista, lengkapnya) yang didirikan pada tahun 1933. Partai ini didirikan oleh ideolog fasis bernama Jose Antonio Primo de Rivera, meniru fasisme Italia, dan berlawanan dengan demokrasi, Undang-Undang, gerakan kiri dan Gereja. Kenyataannya, kata Falange (Tulang jari dalam bahasa Spanyol) adalah konsep perang yang diambil dari budaya pagan. Nama tersebut merujuk kepada pengaturan resimen tentara, sebagaimana pertama kali dipraktikkan di Sumeria kuno, dan kemudian di Yunani dan Romawi kuno. Jendral Franco, komandan tentara Spanyol saat itu, memegang kendali partai Falange di tahun 1936, ketika perang saudara meletus sebagai akibat dari pertarungan antara kelompok kanan dan kiri di negara itu. Namun, ia memperlunak pendirian anti -agama partai tersebut, dalam upaya untuk membuat jenis fasismenya tampak sesuai dengan agama.

Franco mengobarkan sebuah perang saudara yang sangat berdarah, tanpa ragu-ragu bahkan untuk membom rakyat sipil jika ia rasa perlu. Dia memenangkan perang tiga tahun di tahun 1939, dan kediktatoran yang ia dirikan setelahnya berlangsung sampai tahun 1970-an. Untuk mempertahankan rezim tersebut, dia menjalankan berbagai kebijakan untuk memastikan dukungan Gereja Katolik. Pada saat yang sama, Gereja diberikan sebuah peran kapitalistik dalam kehidupan ekonomi di negara itu. Pendekatan Franco adalah dengan senantiasa membela Gereja, dan menggunakannya untuk tujuan-tujuannya sendiri. Di sisi lain, semua gerakan agama yang muncul dan berada di luar prinsip-prinsip fasis ditekan dengan bengisnya oleh pemerintah.

Buku Who is Franco? What is Falangism? menjelaskan bagaimana fasime Spanyol memanfaatkan agama agar berhasil:

Fasisme membutuhkan massa untuk mencapai tuj uannya… . Untuk memotivasi massa cukuplah dengan menggunakan kata-kata seperti kebenaran agama dan monarki… . Katolik senantiasa kuat di Spanyol: Kebanyakan pendeta merupakan pendukung fasisme yang terang-terangan… .. Sehingga teori fasisme Spanyol perlu ditemukan dan dipublikasikan. Ini dilakukan oleh Gil Robles. Robles mempunyai hubungan dekat dengan para pemilik tanah terkuat di Spanyol. Dia terdidik di sekolah-sekolah Jesuit Katolik, dan mengawali kegiatan politiknya yang pertama di organisasi-organisasi ini juga… Ketika fasisme mencapai tampuk kekuasaan di Jerman, Robles bergegas ke sana. Tujuannya adalah untuk mempelajari metode-metode yang dilakukan Jerman. Robles berusaha meniru fasisme Jerman dalam banyak aspek, namun ia tidak dapat mengajukan teori superior dan ras Aria. Lalu, apa yang akan ia lakukan? Ia menciptakan sebuah chauvisnisme ekstrem, yang dihubungkan dengan ajaran Katolik. Spanyol adalah segala-galanya. Tuhan mendukung Spanyol. Kalian adalah Katolik sebagaimana kalian merasa sebagai bangsa Spanyol! Chauvinisme Katolik yang diserukan Robles ini berasal dari berbagai karakteristik Spanyol sendiri… Robles memanfaatkan berbagai lembaga dan badan kerjasama Katolik, serta kelompok-kelompok pemuda Katolik. Media-media Katolik pun memberi dukungan kepada fasisme. Robles juga menjalankan surat kabar El Debate, yang terkenal di kalangan konservatif.

Gereja juga mendukung kaum fasis dengan cara-cara lain. Orang-orang Spanyol di Amerika Latin dan kelompok-kelompok fasis lainnya membentuk Falange versi mereka sendiri, sehingga negara-negara ini bisa digiring ke bawah kekuasaan Spanyol. Gereja Katolik di negara-negara tersebut merupakan kekuatan pendorong utama dalam rencana ini.

Kisah tentang bagaimana berbagai rezim fasis memperoleh kekuasaan, pada umumnya sangat mirip. Bagi kaum fasis, agama adalah alat penting untuk membantu mereka mencapai tujuan. Sebagai hasil dari siasat yang serupa dengan yang digunakan di negara-negara fasis lainnya, Gereja di Spanyol mendukung Franco. Bagaimanapun, seperti yang telah kita pahami, kaum fasis hanya mempertahankan perlakuan baik seperti ini terhadap agama hingga mereka berhasil berkuasa. Setelah berkuasa, mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk memeranginya. Hal yang sama terjadi di Spanyol.

George Orwell melukiskan situasi revolusioner di Barcelona, pada 6 bulan setelah revolusi:

Hampir semua gereja dimusnahkan dan gambar-gambarnya dibakar. Gereja-gereja di sana-sini secara sistematis dihancurkan oleh kelompok-kelompok pekerja.

Saat kita mengkaji Franco sebagai sebuah contoh bagaimana kaum fasis secara terbuka memanfaatkan agama, kita kembali berhadapan dengan sebuah kebenaran yang telah disebutkan sebelumnya dalam buku ini. Fasisme adalah sebuah ideologi yang berusaha mengembalikan masyarakat Eropa kepada agama-agama pagan di Eropa pra-Kristen. Dan tidak hanya di Eropa. Di mana pun di dunia, agama sejati dari fasisme adalah paganisme. Setiap gerakan fasis menjadikan kepercayaan pagan di masyarakatnya sendiri sebagai acuan. Berbagai slogan dan simbol mereka serta yang semacamnya, semuanya mempunyai ciri masa lalu pagan dari sebuah masyarakat tertentu. Kaum fasis berupaya membangkitkan semangat emosional rakyatnya dengan menyebutkan nenek moyang dan tradisi mereka, yang memperkuat semacam hipnosis massal. Mereka terus-menerus menj anjikan kembalinya masa-masa gemilang di masa lampau mereka. Betapa pun kuatnya mereka menampakkan kesan religius, sesungguhnya mereka tetap penganut paganisme.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar